Loading

JSS TRIPLER : BAGI-BAGI $10 GRATIS UNTUK ANDA


DAPATKAN $10 GRATIS UNTUK ANDA YANG MENDAFTAR SEKARANG !!!


JSS Tripler merupakan salah satu program Investasi yg dimiliki oleh JBP (Just Been Paid) yang didirikan oleh Frederick Mann pada tahun 2004 dan terus berkembang dengan inovasi terbaru hingga sekarang.
Populer di indonesia sejak 17 februari 2011 bersamaan dengan boomingnya JSS-Tripler program Invest terbaru JBP.
Jadi kalau mau ikutan program JSS Tripler, Anda harus daftar terlebih dahulu di Website JBP daftarnya Gratis. KLIK DISINI

Apa Sih JSS Tripler ???
JSS Tripler… adalah program Investasi yang memberikan Profit 2% per hari, 60% per bulan, 150% per 75 hari untuk setiap Investasi Anda. (di JSS Tripler INVESTASI = SAHAM / POSISI masa kontrak 75 hari) dan masih ada satu lagi bonus yang bisa anda dapat yaitu Bonus Matrix 150%, jadi Total Profit yang diberikan JSS Tripler ke Anda sebesar 300%.

Apa yang menjadi penghasilan JSS-Tripler hingga berani memberikan profit 2% per hari, 60% per bulan, 150% per 75 hari dan Bonus Matrix ke setiap membernya ???

Sumber Penghasilan JSS-Tripler Yaitu :

1. JBP Admin’s Jss-Tripler account.
2. Advertising Sales.
3. JBP1 (The Big Success Breakthrough)
4. JBP2 (Killer Success Tricks)
5. JBP3 (More Killer Success Tricks)
6. JSS-Warp
7. JSS-Booster
8. JBP’s Synergy Surf (JSS)
9. Sale Of Referrals
10. Other income stream to be developed (Including “Project Certo Power)

Bagaimana Cara Kerja JSS-Tripler ???

Cara Kerja JSS Tripler :

Untuk mendapatkan Profit 2% per hari Anda harus MEMBELI SAHAM / POSISI DI JSS-Tripler.
Dimana 1 Saham JSS-Tripler = $10 USD, dan Anda boleh membeli lebih dari 1 Saham.
Sekali lagi setiap Saham JSS-Tripler yg Anda Beli akan memberikan Profit 2% per hari, 60% per bulan, 150% per 75 hari (Masa Kontrak 75 hari) dan masih ada satu lagi bonus yang bisa anda dapat yaitu Bonus Matrix 150%, jadi Total Profit yang diberikan JSS Tripler ke Anda sebesar 300%.

Setelah hari ke 75, Saham yang anda beli jadi matang / hangus / mature, tidak lagi menghasilkan Profit, dan Anda bisa memulai membeli Saham baru lagi, dengan Porfit yang sudah Anda dapatkan yaitu 150% selama 75 hari.

Contoh Perhitungan Profit 2% perhari : Anda membeli 50 Saham = (50 x $10 USD = $500 USD)
Dan Setiap hari dari 1 Saham yang Anda miliki akan mendapatkan Profit 2% ($10 USD x 2% = $0.2 USD)
Jadi jumlah Profit dari 50 Saham Anda = 50 Saham x $0.2 USD= $10 USD per hari selama 75 hari.

Perhitungan Profitnya Sangaat Mudah sekali
Perhatikan Contoh di bawah
PROFIT yang Anda Peroleh tergantung Saham yang anda beli :
Beli 1 Saham senilai $10 USD = Profit Anda $0,2 USD perhari X 75 hari = $15
Beli 10 Saham senilai $100 USD = Profit Anda $2 USD perhari X 75 hari = $150
Beli 100 Saham senilai $1.000 USD = Profit Anda $20 USD perhari X 75 hari = $1.500
Beli 1.000 Saham senilai $10.000 USD = Profit Anda $200 USD perhari X 75 hari = $15.000
Saat ulasan ini dibuat, JSS Tripler memberikan $10 GRATIS bagi anda yang baru mendaftar, uang ini dapat digunakan untuk membeli 1 saham yang akan memberi profit $0,2 perhari.

INGIN BERGABUNG, KLIK DISINI

CARA KLAIM $10 GRATIS DARI JSS TRIPLER :

Bagi yang sudah daftar langsung saja ikuti panduan berikut ini:

1. Klik disini untuk login di justbeenpaid.
2. Isi Member ID, Password dan Code Image. Kemudian klik Tombol Log in.



3. Setelah login dan masuk ke Member Are (Back Office). Klik pada tulisan JSS Tripler pada kotak yang berwarna biru.


4. Selanjutnya konfirmasikan Keanggotaan JSS Tripler kalian. Kemudian Klik Submit Your Contact Information To Proceed.


Selamat Bonus Pendaftaran sebesar 10 Dollar telah kalian dapatkan.



Selanjutnya manfaatkan bonus pendaftaran yang telah kalian dapatkan untuk mendapatkan profit 2% Setiap harinya selama 75 hari.

Uji Asumsi Klasik

Uji asumsi klasik adalah persyaratan statistik yang harus dipenuhi pada analisis regresi linear berganda yang berbasis ordinary least square (OLS). Jadi analisis regresi yang tidak berdasarkan OLS tidak memerlukan persyaratan asumsi klasik, misalnya regresi logistik atau regresi ordinal. Demikian juga tidak semua uji asumsi klasik harus dilakukan pada analisis regresi linear, misalnya uji multikolinearitas tidak dilakukan pada analisis regresi linear sederhana dan uji autokorelasi tidak perlu diterapkan pada data cross sectional.

Uji asumsi klasik juga tidak perlu dilakukan untuk analisis regresi linear yang bertujuan untuk menghitung nilai pada variabel tertentu. Misalnya nilai return saham yang dihitung dengan market model, atau market adjusted model. Perhitungan nilai return yang diharapkan dapat dilakukan dengan persamaan regresi, tetapi tidak perlu diuji asumsi klasik.

Uji asumsi klasik yang sering digunakan yaitu uji multikolinearitas, uji heteroskedastisitas, uji normalitas, uji autokorelasi dan uji linearitas. Tidak ada ketentuan yang pasti tentang urutan uji mana dulu yang harus dipenuhi. Analisis dapat dilakukan tergantung pada data yang ada. Sebagai contoh, dilakukan analisis terhadap semua uji asumsi klasik, lalu dilihat mana yang tidak memenuhi persyaratan. Kemudian dilakukan perbaikan pada uji tersebut, dan setelah memenuhi persyaratan, dilakukan pengujian pada uji yang lain.

1. Uji Normalitas
Uji normalitas adalah untuk melihat apakah nilai residual terdistribusi normal atau tidak. Model regresi yang baik adalah memiliki nilai residual yang terdistribusi normal. Jadi uji normalitas bukan dilakukan pada masing-masing variabel tetapi pada nilai residualnya. Sering terjadi kesalahan yang jamak yaitu bahwa uji normalitas dilakukan pada masing-masing variabel. Hal ini tidak dilarang tetapi model regresi memerlukan normalitas pada nilai residualnya bukan pada masing-masing variabel penelitian.

Pengertian normal secara sederhana dapat dianalogikan dengan sebuah kelas. Dalam kelas siswa yang bodoh sekali dan pandai sekali jumlahnya hanya sedikit dan sebagian besar berada pada kategori sedang atau rata-rata. Jika kelas tersebut bodoh semua maka tidak normal, atau sekolah luar biasa. Dan sebaliknya jika suatu kelas banyak yang pandai maka kelas tersebut tidak normal atau merupakan kelas unggulan. Pengamatan data yang normal akan memberikan nilai ekstrim rendah dan ekstrim tinggi yang sedikit dan kebanyakan mengumpul di tengah. Demikian juga nilai rata-rata, modus dan median relatif dekat.

Uji normalitas dapat dilakukan dengan uji histogram, uji normal P Plot, uji Chi Square, Skewness dan Kurtosis atau uji Kolmogorov Smirnov. Tidak ada metode yang paling baik atau paling tepat. Tipsnya adalah bahwa pengujian dengan metode grafik sering menimbulkan perbedaan persepsi di antara beberapa pengamat, sehingga penggunaan uji normalitas dengan uji statistik bebas dari keragu-raguan, meskipun tidak ada jaminan bahwa pengujian dengan uji statistik lebih baik dari pada pengujian dengan metode grafik.

Jika residual tidak normal tetapi dekat dengan nilai kritis (misalnya signifikansi Kolmogorov Smirnov sebesar 0,049) maka dapat dicoba dengan metode lain yang mungkin memberikan justifikasi normal. Tetapi jika jauh dari nilai normal, maka dapat dilakukan beberapa langkah yaitu: melakukan transformasi data, melakukan trimming data outliers atau menambah data observasi. Transformasi dapat dilakukan ke dalam bentuk Logaritma natural, akar kuadrat, inverse, atau bentuk yang lain tergantung dari bentuk kurva normalnya, apakah condong ke kiri, ke kanan, mengumpul di tengah atau menyebar ke samping kanan dan kiri.

2. Uji Multikolinearitas
Uji multikolinearitas adalah untuk melihat ada atau tidaknya korelasi yang tinggi antara variabel-variabel bebas dalam suatu model regresi linear berganda. Jika ada korelasi yang tinggi di antara variabel-variabel bebasnya, maka hubungan antara variabel bebas terhadap variabel terikatnya menjadi terganggu. Sebagai ilustrasi, adalah model regresi dengan variabel bebasnya motivasi, kepemimpinan dan kepuasan kerja dengan variabel terikatnya adalah kinerja. Logika sederhananya adalah bahwa model tersebut untuk mencari pengaruh antara motivasi, kepemimpinan dan kepuasan kerja terhadap kinerja. Jadi tidak boleh ada korelasi yang tinggi antara motivasi dengan kepemimpinan, motivasi dengan kepuasan kerja atau antara kepemimpinan dengan kepuasan kerja.

Alat statistik yang sering dipergunakan untuk menguji gangguan multikolinearitas adalah dengan variance inflation factor (VIF), korelasi pearson antara variabel-variabel bebas, atau dengan melihat eigenvalues dan condition index (CI).

Beberapa alternatif cara untuk mengatasi masalah multikolinearitas adalah sebagai berikut:
1. Mengganti atau mengeluarkan variabel yang mempunyai korelasi yang tinggi.
2. Menambah jumlah observasi.
3. Mentransformasikan data ke dalam bentuk lain, misalnya logaritma natural, akar kuadrat atau bentuk first difference delta.


3. Uji Heteroskedastisitas
Uji heteroskedastisitas adalah untuk melihat apakah terdapat ketidaksamaan varians dari residual satu ke pengamatan ke pengamatan yang lain. Model regresi yang memenuhi persyaratan adalah di mana terdapat kesamaan varians dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain tetap atau disebut homoskedastisitas.

Deteksi heteroskedastisitas dapat dilakukan dengan metode scatter plot dengan memplotkan nilai ZPRED (nilai prediksi) dengan SRESID (nilai residualnya). Model yang baik didapatkan jika tidak terdapat pola tertentu pada grafik, seperti mengumpul di tengah, menyempit kemudian melebar atau sebaliknya melebar kemudian menyempit. Uji statistik yang dapat digunakan adalah uji Glejser, uji Park atau uji White.

Beberapa alternatif solusi jika model menyalahi asumsi heteroskedastisitas adalah dengan mentransformasikan ke dalam bentuk logaritma, yang hanya dapat dilakukan jika semua data bernilai positif. Atau dapat juga dilakukan dengan membagi semua variabel dengan variabel yang mengalami gangguan heteroskedastisitas.

4. Uji Autokorelasi
Uji autokorelasi adalah untuk melihat apakah terjadi korelasi antara suatu periode t dengan periode sebelumnya (t -1). Secara sederhana adalah bahwa analisis regresi adalah untuk melihat pengaruh antara variabel bebas terhadap variabel terikat, jadi tidak boleh ada korelasi antara observasi dengan data observasi sebelumnya. Sebagai contoh adalah pengaruh antara tingkat inflasi bulanan terhadap nilai tukar rupiah terhadap dollar. Data tingkat inflasi pada bulan tertentu, katakanlah bulan Februari, akan dipengaruhi oleh tingkat inflasi bulan Januari. Berarti terdapat gangguan autokorelasi pada model tersebut. Contoh lain, pengeluaran rutin dalam suatu rumah tangga. Ketika pada bulan Januari suatu keluarga mengeluarkan belanja bulanan yang relatif tinggi, maka tanpa ada pengaruh dari apapun, pengeluaran pada bulan Februari akan rendah.

Uji autokorelasi hanya dilakukan pada data time series (runtut waktu) dan tidak perlu dilakukan pada data cross section seperti pada kuesioner di mana pengukuran semua variabel dilakukan secara serempak pada saat yang bersamaan. Model regresi pada penelitian di Bursa Efek Indonesia di mana periodenya lebih dari satu tahun biasanya memerlukan uji autokorelasi.

Beberapa uji statistik yang sering dipergunakan adalah uji Durbin-Watson, uji dengan Run Test dan jika data observasi di atas 100 data sebaiknya menggunakan uji Lagrange Multiplier. Beberapa cara untuk menanggulangi masalah autokorelasi adalah dengan mentransformasikan data atau bisa juga dengan mengubah model regresi ke dalam bentuk persamaan beda umum (generalized difference equation). Selain itu juga dapat dilakukan dengan memasukkan variabel lag dari variabel terikatnya menjadi salah satu variabel bebas, sehingga data observasi menjadi berkurang 1.

5. Uji Linearitas
Uji linearitas dipergunakan untuk melihat apakah model yang dibangun mempunyai hubungan linear atau tidak. Uji ini jarang digunakan pada berbagai penelitian, karena biasanya model dibentuk berdasarkan telaah teoretis bahwa hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikatnya adalah linear. Hubungan antar variabel yang secara teori bukan merupakan hubungan linear sebenarnya sudah tidak dapat dianalisis dengan regresi linear, misalnya masalah elastisitas.

Jika ada hubungan antara dua variabel yang belum diketahui apakah linear atau tidak, uji linearitas tidak dapat digunakan untuk memberikan adjustment bahwa hubungan tersebut bersifat linear atau tidak. Uji linearitas digunakan untuk mengkonfirmasikan apakah sifat linear antara dua variabel yang diidentifikasikan secara teori sesuai atau tidak dengan hasil observasi yang ada. Uji linearitas dapat menggunakan uji Durbin-Watson, Ramsey Test atau uji Lagrange Multiplier

Populasi dan Sampel

Populasi
Secara ringkas, populasi penelitian adalah keseluruhan objek penelitian, yaitu a set (or collection) of all elements possessing one or more attributes interests. Jadi setiap anggota populasi harus mempunyai karakteristik tertentu yang sama yang akan diteliti. Contoh populasi penelitian adalah seluruh perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2007, atau seluruh karyawan tetap pada perusahaan X, seluruh siswa sekolah X tahun ajaran 2007, atau seluruh pengguna sabun X di Kota Y dan sebagainya.

Hasil penelitian diharapkan dapat mewakili keseluruhan populasi penelitian yang telah ditetapkan di awal penelitian. Berbagai asumsi harus dipenuhi agar hasil penelitian dapat digeneralisasikan terhadap keseluruhan populasi penelitian. Beberapa asumsi statistik yang diperlukan misalnya normalitas data atau uji non response bias.

Untuk populasi dengan jumlah anggota populasi yang besar, maka dapat dilakukan penelitian terhadap sebagian dari anggota populasi tersebut, tetapi masih mempunyai ciri atau karakteristik yang mampu mewakili keseluruhan populasi penelitian tersebut. Sebagian anggota populasi tersebut sering disebut sampel yang dipilih atau ditentukan dengan berbagai metode ilmiah yang ada.

Sampel
Sampel adalah sebagian (cuplikan) dari populasi yang masih mempunyai ciri dan karakteristik yang sama dengan populasi dan mampu mewakili keseluruhan populasi penelitian. Sampel dipergunakan ketika jumlah seluruh anggota populasi terlalu banyak sehingga tidak memungkinkan untuk melakukan penelitian terhadap populasi secara keseluruhan, misalnya populasi penelitian adalah masyarakat pada suatu kota tertentu. Sampel juga digunakan ketika jumlah populasi secara keseluruhan tidak dapat ditentukan secara pasti, misalnya populasi pengguna produk tertentu pada suatu kota.

Persyaratan utama adalah bahwa sampel harus mampu mewakili populasi secara keseluruhan. Oleh karena itu, penentuan jumlah sampel dan pengambilan sampel penelitian harus ditentukan secara sistematis agar benar-benar mampu mewakili populasi secara keseluruhan. Secara garis besar, metode penentuan jumlah sampel terdiri dari dua ciri, yaitu metode acak (random sampling) dan tidak acak (non random sampling). Metode acak adalah memberikan kesempatan kepada seluruh populasi penelitian untuk menjadi sampel penelitian tanpa melihat struktur atau karakteristik tertentu. Metode non random sampling dilakukan dengan memberikan kesempatan kepada populasi dengan ciri atau karakteristik tertentu untuk menjadi sampel penelitian, di mana ciri dan karakteristik tersebut harus dikaitkan dengan tujuan penelitian.

Sebagai ilustrasi penelitian dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh dari beberapa rasio keuangan terhadap harga saham. Maka beberapa kriteria yang dapat diambil untuk penentuan non random sampling misalnya: Perusahaan tidak mengeluarkan kebijakan selama periode penelitian. Kriteria ini diambil karena kebijakan perusahaan dapat secara langsung merubah harga saham tanpa melihat ada atau tidaknya pengaruh dari rasio keuangan. Kebijakan tersebut misalnya stock split, merger dan akuisisi, right issue atau kebijakan yang lain. Selain itu masih dapat diberikan kriteria-kriteria yang lain yang mendukung pelaksanaan penelitian, misalnya ketersediaan data.

Pengujian Satu Arah dan Dua Arah

Kita sering mendengar istilah pengujian satu arah (one tailed) dan dua arah (two tailed). Dalam pembahasannya sering kali terjadi kesalahpahaman antara satu peneliti dengan peneliti yang lain, atau antara dosen dengan mahasiswa. Dalam berbagai laporan penelitian juga sering didapati, bahwa hipotesisnya satu arah, tetapi pengujiannya dua arah, atau sebaliknya. Hal tersebut sebenarnya kurang tepat secara statistik (rasanya gak enak kalau mau bilang salah) karena pengujian satu arah dan dua arah adalah hal yang tidak identik dan mempunyai nilai batas yang berbeda.

Pengujian dua arah adalah pengujian terhadap suatu hipotesis yang belum diketahui arahnya. Misalnya ada hipotesis, ‘diduga ada pengaruh signifikan antara variabel X terhadap Y’. Hipotesis tersebut harus diuji dengan pengujian dua arah. Sedangkan hipotesis yang berbunyi, ‘diduga ada pengaruh positif yang signifikan antara variabel X terhadap Y’. Nah, hipotesis tersebut harus diuji dengan pengujian satu arah. Bedanya apa? Lihat saja kedua hipotesis tersebut, ada kata positif dan tidak ada kata positif.

Jadi jika kita sudah mengetahui arah dari hubungan antara dua variabel, maka kita harus menggunakan pengujian satu arah. Coba perhatikan hipotesis ini, ‘diduga X berbeda dengan Y’. Nah pengujiannya apa? Ya jelas pengujian hipotesis dua arah. Berbeda dengan ini, ‘diduga X lebih tinggi dari pada Y’, di mana ini adalah pengujian hipotesis satu arah.

Perumusan hipotesis, apakah menggunakan arah atau tidak dilakukan berdasarkan telaah teoretis, atau merujuk kepada penelitian yang telah ada sebelumnya (kalau ada). Misalnya, sudah ada referensi bahwa variabel X berpengaruh secara signifikan terhadap variabel Y, maka jika kita akan melakukan replikasi terhadap penelitian tersebut, ya sebaiknya menggunakan hipotesis satu arah. Artinya kita melangkah lebih lanjut dari pada penelitian sebelumnya yang hanya mengetahui bahwa ada pengaruh saja. Penelitian kita akan memberikan manfaat lebih lanjut, yaitu bahwa pengaruh tersebut adalah positif atau negatif.

Jika kita menggunakan analisis regresi linear, maka untuk pengujian dua arah, dan menggunakan signifikansi sebesar 5%, maka signifikansi akan dilihat dari nilai signifikansi output, di bawah 0,05 (hipotesis diterima) atau di atas 0,05 (hipotesis ditolak). Kita tidak perlu melihat berapa nilai t outputnya, apakah positif atau negatif. Akan tetapi, jika kita menggunakan hipotesis satu arah, pada signifikansi 5%, maka nilai signifikansi output harus dibagi dengan dua terlebih dahulu. Misalnya output signifikansi adalah sebesar 0,96, maka hipotesis diterima, karena 0,96 : 2 = 0,48

Justifikasi Penerimaan Hipotesis

Biasanya pada naskah skripsi atau tesis yang menggunakan analisis linear regresi berganda akan mempunyai hipotesis parsial (diuji dengan uji t) dan hipotesis simultan (diuji dengan uji F). Fenomena tersebut seolah-olah sudah latah dilakukan oleh mahasiswa dan juga disetujui oleh dosen pembimbing, yang sangat mungkin bukan berasal dari ilmu statistik.

Perumusan hipotesis parsial didasari oleh dasar teori yang kuat dan dapat dengan mudah dilakukan oleh mahasiswa dengan bantuan dosen, karena dosen memang sangat menguasai tentang hal itu. Akan tetapi, sebenarnya hipotesis simultan sering kali didasari oleh teori yang seolah-olah dipaksakan. Sebenarnya uji F adalah untuk melihat kelayakan modal saja. Jika uji F tidak signifikan, maka tidak disarankan untuk melakukan uji t atau uji parsial. Jadi hipotesis simultan sebenarnya tidak selalu harus dirumuskan dalam suatu penelitian. Toh dasar teorinya juga sangat lemah.

Penentuan penerimaan hipotesis dengan uji t dapat dilakukan berdasarkan tabel t. Nilai t hitung hasil regresi dibandingkan dengan nilai t pada tabel. Jika t hitung > t tabel maka berarti terdapat pengaruh yang signifikan secara parsial, dan sebaliknya jika t hitung < t tabel maka tidak terdapat pengaruh yang signifikan secara parsial. Hal tersebut juga berlaku untuk F hitung. Cara melihat nilai t tabel dan F tabel sudah banyak dibahas pada berbagai buku statistik. Misalnya untuk jumlah sampel 100 maka nilai t tabel untuk signifikansi 5% adalah dengan melihat nilai t dengan degree of freedom sebesar N – 2 = 100 – 2 = 98 untuk hipotesis dua arah. Nilai t dilihat pada kolom signifikansi : 2 = 5% : 2 = 0,025. Jika pengujian satu arah, maka df adalah 100 – 1 = 99 dan dilihat pada kolom 5%.

Untuk uji F, maka df dihitung dengan N – k – 1 dengan k adalah jumlah variabel bebas. Anda jangan bertanya, bagaimana kalau uji satu arah dan dua arah pada uji F. Uji F tidak mengenal arah, jadi ya pasti satu arah. Logika uji dua arah, adalah terdapat pengaruh antara variabel bebas terhadap variabel terikat, dan uji satu arah adalah terdapat pengaruh negatif/positif antara variabel bebas antara variabel bebas terhadap variabel terikat. Lha kalau uji F kan uji simultan, jadi bagaimana menentukan arah positif atau negatif.

Variabel Penelitian

Secara singkat, variabel adalah gejala yang menjadi fokus peneliti untuk diamati. Tentunya banyak pengertian lain, dan silahkan Anda mencari definisi tentang variabel di sumber lain. Di sini akan diuraikan berbagai jenis variabel yang sering dijumpai dalam suatu penelitian. Penelitian anda, paling hanya memuat satu, dua, atau paling tiga dari jenis variabel di bawah

1. Variabel independen
Variabel independen adalah variabel yang menjadi sebab atau berubahnya suatu variabel lain (variabel dependen). Juga sering disebut dengan variabel bebas, prediktor, stimulus, eksougen atau antecendent.

2. Variabel dependen
Variabel dependen merupakan variabel yang dipengaruhi atau menjadi akibat karena adanya variabel lain (variabel bebas). Juga sering disebut variabel terikat, variabel respons atau endogen. Variabel inilah yang biasanya dikupas dalam-dalam pada latar belakang penelitian. Biasanya diberikan porsi yang lebih dalam membahas variabel terikat dari pada variabel bebasnya karena merupakan implikasi dari hasil penelitian.

3. Variabel Moderating
Variabel moderating adalah variabel yang memperkuat atau memperlemah hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat. Sekali lagi, memperkuat atau memperlemah. Variabel moderating juga sering disebut sebagai variabel bebas kedua dan sering dipergunakan dalam analisis regresi linear, atau pada structural equation modeling. Sebagai contoh, hubungan ayah dan ibu akan semakin mesra dengan adanya anak. Jadi anak merupakan variabel moderating antara ayah dan ibu. Atau, selingkuhan merenggangkan hubungan ayah dan ibu, jadi selingkuhan merupakan variabel moderating antara ayah dan ibu.

4. Variabel intervening
Adalah variabel yang menjadi media pada suatu hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat. Sebagai contoh, cinta ibu terhadap ayah akan semakin kuat setelah berkeluarga. Jadi keluarga merupakan media bagi ibu dalam pengaruhnya terhadap ayah. Banyak contoh tentang regresi linear dengan variabel intervening.

5. Variabel kontrol
Variabel kontrol adalah variabel yang dikendalikan atau dibuat konstan, atau dijadikan acuan bagi variabel yang lain. Misalnya variabel kecepatan menulis murid-murid suatu sekolah, yang diukur dan dibandingkan kecepatan menulis murid sekolah lain. Bisa juga digunakan dalam analisis regresi linear dengan variabel kontrol.

Analisis Regresi Linier dengan SPSS


Misalkan kita ingin mengetahui pegaruh biaya produksi, biaya promosi dan biaya distribusi terhadap penjualan. Data yang telah dikumpulkan dari hasil pengamatan suatu produk selama 2 tahun, sebagai berikut :


Variabel dependen adalah Penjualan (Y), sedangkan variabel independen adalah Biaya Produksi (X1), Biaya Promosi (X2) dan Biaya Distribusi (X3). Untuk mengetahui apakah pengaruhnya signifikan atau tidak dengan melakukan pengujian yaitu uji F dan uji t. Serta dilakukan uji asumsi yaitu normalitas, multikolinearitas, heteroskedastisitas, dan autokorelasi.

Langkah-langkah analisis regresi linier, sebagai berikut :

  • Klik ganda icon SPSS pada desktop atau klik pada start menu untuk mengaktifkan program SPSS.
  • Setelah muncul kotak dialog SPSS for Window maka klik Cancel (karena ingin membuat data baru)
  • Pada halaman SPSS data editor klik Variable View
  • Untuk memasukan variabel langkahnya sebagai berikut :
  • Ketik Y pada kolom name, pada label ketik Penjualan (Y), dan pada kolom Measure pilih Scale.
  • Pada kolom Name dibawahnya ketik X1, pada label ketik Biaya Produksi (X1) dan pada kolom Measure pilih Scale.
  • Pada kolom Name dibawahnya ketik X2, pada label ketik Biaya Promosi (X2) dan pada kolom Measure pilih Scale.
  • Pada kolom Name dibawahnya ketik X3, pada label ketik Biaya Distribusi (X3) dan pada kolom Measure pilih Scale.
  • Kolom-kolom lainnya biarkan isian default
  • Setelah selesai memasukan variabel maka selanjutnya klik Data View
  • Isikan data Y, X1, X2 dan X3 sesuai dengan variabelnya.


Analisis Regresi Linier


Analisis regresi linier digunakan untuk meramalkan suatu nilai variabel dependen dengan adanya perubahan dari variabel independen. Analisis regresi linier merupakan hubungan antara dua variabel atau lebih. Jika hanya menggunakan satu variabel independen maka disebut analisis regresi sederhana dan jika menggunakan lebih dari satu variabel independen maka disebut analisis regresi linier berganda. Dalam perhitungan regresi akan didapat koefisien regresi yang digunakan untuk mengetahui seberapa besar perubahan variabel dependen jika nilai variabel independen dinaikan atau diturunkan, selanjutnya dari hasil persamaan regresi akan didapatkan nilai prediksi variabel dependen.

Asumsi yang mendasari pada analisis regresi linier adalah bahwa distribusi data adalah normal dan hubungan antara variabel dependen dan masing-masing variabel independen adalah linier. Selain itu terdapat asumsi klasik yang biasanya digunakan pada penelitian ekonomi, yaitu tidak adanya multikolinearitas, heteroskedastisitas, dan autokorelasi pada model regresi.


Contoh-contoh kasus dengan analisis regresi linier antara lain sebagai berikut :
  • Penelitian tentang pengaruh antara biaya promosi terhadap tingkat penjualan.
  • Penelitian tentang pengaruh luas lahan, jumlah bibit, dan jumlah pupuk terhadap produksi cabai merah.
  • Penelitian tentang pengaruh IPK dan nilai bahasa inggris terhadap kemungkinan alumni dari perguruan tinggi mendapat pekerjaan atau tidak.
  • Penelitian tentang pengaruh rasio keuangan yaitu PER, ROI dan ROE terhadap harga saham pada perusahaan di BEI
  • Penelitian tentang pengaruh feature, reliability dan durability terhadap kepuasan konsumen produk handphone.

Analisis regresi linier tersebut diatas dapat diselesaikan dengan mudah menggunakan SPSS dan akan dibahas dengan menggunakan contoh dalam posting selanjutnya.


Variasi Penghitungan dan Penyetoran Pajak Penghasilan Pasal 21

Arja Sadjiarto
Fakultas Ekonomi, Universitas Kristen Petra, Surabaya-Indonesia

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat variasi cara penghitungan dan penyetoran Pajak Penghasilan Pasal 21/26 di perusahaan besar dan memiliki kecenderungan untuk lebih patuh. Metode penelitian yang dipakai adalah studi kasus tunggal pada PT X, sebuah perusahaan manufaktur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di tahun 2006 ada perbedaan penghitungan dan penyetoran PPh Pasal 21/26 antara yang dilakukan PT X dengan yang diatur oleh peraturan perpajakan, khususnya untuk pegawai tetap dan tidak tetap (harian). Variasi cara penghitungan dilakukan pada pegawai tetap karena adanya penghitungan ulang saat penyusunan SPT PPh Pasal 21 Tahunan dan pada pegawai harian karena penyederhaan cara penghitungan PPh 21/26 yang dianggap relatif rumit.

Kata Kunci : pajak penghasilan, PPh Pasal 21, variasi penghitungan PPh Pasal 21

Abstract

The objective of this qualitative study is to describe the implementation of employment tax regulation on PT X, a manufacturing company and to confirm there are any tendencies to have a different method or the calculation may vary on employment tax and to explain the rationales behind them in such a big and tend-to-comply company. This qualitative study is done with single case study approach. The results of this study shows that in 2006, PT X calculated and paid the employment tax for permanent and non-permanent (daily-paid) employees with a different techniques as describe on the tax regulation.The variations is found on monthly employment tax calculation for permanent employees that will be recalculated on yearly basis and on daily-paid employee for calculation simplification.

Keywords : income tax, withholding employment tax, variation on employment tax calculation.

Jika ingin membaca Jurnal lengkapnya silahkan Klik Disini

User Satisfaction Using Webqual Instrument: A Research on Stock Exchange of Thailand (SET)

Josua Tarigan
Faculty of Economics, Petra Christian University, Surabaya-Indonesia

Abstract

User satisfaction held an important position in an organization to measure information system implementation excellence. Therefore, it is necessary for an organization to evaluate their delivered service using end-user satisfaction as feedback. The objectives of this study are to evaluate user satisfaction and examine the dimensions of WEBQUAL instrument which are valued by e-library user in Stock Exchange of Thailand (SET). This research conducted under WEBQUAL theory (Barnes and Vidgen) and end-user satisfaction theory (Doll and Torkzadeh). Analysis organized from a set of data which involve 341 responses from e-library systems end-users confirm some degree of positive association between WEBQUAL dimensions and end-user satisfaction.

Keywords : User satisfaction, e-library systems, WEBQUAL theory, end-user satisfaction theory.

Jika ingin membaca Jurnal lengkapnya silahkan Klik Disini

Pendeteksian Kecurangan (Fraud) Laporan Keuangan oleh Auditor Eksternal

Tri Ramaraya Koroy
STIE Nasional Banjarmasin, Indonesia

Abstrak

Tujuan makalah ini adalah mengidentifikasi dan menguraikan permasalahan dalam pendeteksian kecurangan dalam audit atas laporan keuangan oleh auditor eksternal. Meskipun pendeteksian kecurangan penting untuk meningkatkan nilai pengauditan, namun terdapat banyak masalah yang dapat menghalangi implementasi dari pendeteksian yang tepat. Berdasarkan telaah atas berbagai penelitian yang telah dilakukan, ada terdapat empat faktor penyebab besar yang diidentifikasikan melalui makalah ini. Pertama, karakteristik terjadinya kecurangan sehingga menyulitkan proses pendeteksian. Kedua, standar pengauditan belum cukup memadai untuk menunjang pendeteksian yang sepantasnya. Ketiga, lingkungan kerja audit dapat mengurangi kualitas audit dan keempat metode dan prosedur audit yang ada tidak cukup efektif untuk melakukan pendeteksian kecurangan. Berdasarkan permasalahan ini, perbaikan yang perlu disarankan untuk diterapkan.

Kata Kunci : auditing, fraud, financial statement fraud

Abstract

Objectives of this paper are to identify and describe the problems in detecting the financial statement fraud in auditing financial statements by external auditors. Although detection of fraud is important to enhance the value of auditing, there are many problems that impede the appropriate implementation of detection. Based on review of related research that have bee done, there are four factors that identified in this paper. First, the characteristic of fraud occurence made it difficult for detection process. Second, auditing standards is not sufficiently supporst the proper detection. Third, work environment of audit may reduce the quality and the last, audit methods and procedures are not enough for efective detection. Based on this identified problems, the improvement of implementation was suggested.

Keywords : auditing, fraud, financial statement fraud

Jika ingin membaca Jurnal lengkapnya silahkan Klik Disini

Analisis Pengaruh Human Capital Terhadap Kinerja Perusahaan (Studi Empiris pada Kantor Akuntan Publik di Indonesia)

Martina Dwi Puji Astri Ongkorahardjo,
Antonius Susanto,
Dyna Rachmawati
Fakultas Ekonomi, Universitas Widya Mandala, Surabaya-Indonesia

Abstrak

Human capital sebagai salah satu komponen utama dari intellectual capital (intangible asset) yang dimiliki oleh perusahaan. Penelitian ini menggunakan obyek kantor akuntan publik Penelitian ini berusaha menguji apakah individual capability dan the organizational climate yang merupakan komponen dari human capital memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kinerja perusahaan kantor akuntan publik baik secara individual (parsial) maupun secara simultan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertama, individual capability berpengaruh signifikan terhadap kinerja kantor akuntan publik. Kedua, the organizational climate berpengaruh signifikan terhadap kinerja kantor akuntan publik. Ketiga, individual capability dan the organizational climate berpengaruh signifikan secara bersama-sama terhadap kinerja kantor akuntan publik. Pengujian juga membuktikan bahwa individual capability adalah variabel yang mempunyai pengaruh paling besar terhadap kinerja kantor akuntan publik.

Kata Kunci : Human capital, individual capability, the organizational climate.

Abstract

Human capital is of the intellectual capital components owned by a company. This study evaluates if individual capability and organizational climate affect business performance partially and simultaneously. We use public accounting firms as our subjects.. Our study shows that individual capability and organizational climate respectively influence performance in public accounting firms. Additionally, these two factors simultaneously affect performance. Overall individual capability shows stronger relationship to performance compared to organizational climate.

Keywords : Human capital, individual capability, the organizational climate.

Jika ingin membaca Jurnal lengkapnya silahkan Klik Disini

Pengaruh Faktor Internal dan Eksternal Perusahaan Terhadap Audit Delay dan Timeliness

Sistya Rachmawati
Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Jakarta-Indonesia

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengukur pengaruh faktor internal yaitu: profitabilitas, solvabilitas, internal auditor dan size perusahaan) dan faktor eksternal, yaitu ukuran KAP terhadap audit delay dan Timeliness pada perusahaan manufaktur yang terdaftar pada Jakarta Stock Exchange. Pemilihan sampel menggunakan metode Purposive Sampling. Dari hasil pengolahan Regresi Berganda pada Audit Delay diketahui bahwa koefisien determinasi Adjusted R2 = 0,123. Artinya seluruh variabel independen (Profitabilitas, Solvabilitas, Internal Auditor, Size Perusahaan, dan KAP) hanya mampu menjelaskan variasi dari variabel dependen (Audit Delay) adalah sebesar 12,3%. Sedangkan pada Timeliness, seluruh variabel independen (Profitabilitas, Solvabilitas, Internal Auditor, Size Perusahaan, dan KAP) dapat menjelaskan variasi pada variabel dependennya (Timeliness) adalah sebesar 7,9%. Hasil dari penelitian ini dapat membantu profesi akuntan publik dalam upaya meningkatkan efisiensi dan efektivitas proses audit dengan mengendalikan faktor-faktor dominan yang menyebabkan terjadinya Audit Delay dan Timeliness.

Kata Kunci : audit delay, timeliness, profitability, internal auditor, solvability, ukuran perusahaan, ukuran kantor akuntansi publik.

Abstract

The objective of this research is to investigate the influence of the firm size, the profitability, the solvability, the public accountant size and the existence of internal auditor division toward the Audit Delay and Timeliness on manufacture companies that listed in Jakarta Stock Exchange.The Research sample was taken from Fifty-nine listed companies in Jakarta Stock Exchange. These samples were selected by using Purposive sampling method. Analysis hypothesis is using Multiple Regression, before hypothesis test, normality data test using P-Plot test.The result of Multiple Regression model shows that Audit Delay influenced by firm size and public accountant size, and Timeliness influenced by firm size and solvability. This result is recommended for auditor to increase effectiveness and efficiency of his audit performance and for all existing studies to contribute towards the current literature on Auditing.

Keywords : audit delay, timeliness, profitability, internal auditor, solvability, firm size, public accountant size

Jika ingin membaca Jurnal lengkapnya silahkan Klik Disini

Pengaruh Merger dan Akuisisi Terhadap Efisiensi Perbankan di Indonesia (Tahun 1998-2009)

Ruddy Tri Santoso
Mahasiswa Program Doktor Ilmu Ekonomi, Universitas Sebelas Maret, Surakarta

Abstrak

Merger dan akuisisi merupakan langkah bank untuk meningkatkan kinerja dan skala usaha ekonomi, merger dan akusisi tidak signifikan untuk meningkatkan efisiensi bank. Rasio efisiensi diukur dengan DEA (Data Envelopment Analysis) yang dipergunakan untuk perbandingan kinerja bank dengan menggunakan rasio CAMEL. Penelitian ini menggunakan metode DEA untuk menghitung kinerja bank sesudah merger dan akusisi. Pengukuran efisiensi dihitung menggunakan data historis sejak tahun 1998 ketika krisis ekonomi regional terjadi sampai tahun 2009 sesudah krisis financial global di Indonesia. Rasio efisiensi diperhitungkan antara 0–100% sebagai parameter efisiensi, parameter input terdiri dari sumber dana bank dan parameter output terdiri dari penggunaan dana sebagai pinjaman dan surat-surat berharga. Hasil penelitian efisiensi menunjukkan bahwa merger dan akusisi tidak signifikan untuk meningkatkan efisiensi dan tergantung dengan faktor-faktor kualitatif dari bank seperti efektivitas organisasi dan kemampuan managerial. Hasil riset menunjukkan bahwa Bank Mandiri rasio efisiensinya stabil sesudah merger dan akusisi sampai tahun 2009 dan tidak terpengaruh oleh krisis tetapi mempengaruhi secara signifikan efisiensi di peer groupsnya pada saat merger dan akusisi tersebut. Krisis financial global hanya mempengaruhi Bank Century seperti fakta yang terjadi. Riset juga menunjukkan bahwa bank dengan modal di atas Rp. 10 Trilyun ( /- USD/Billions) mempunyai pengaruh terhadap variabel-variabel didalam peer group mereka. Dengan kata lain, merger dan akusisi di bank level menengah tidak akan berpengaruh terhadap peer groups mereka. Rasio efisiensi diukur dengan metode DEA, uji efisiensi sebelum dan sesudah merger dan akusisi menggunakan Uji-Mann Whitney dengan pendekatan parametri dan distribusi data tidak normal, analisis pengaruh merger dan akusisi ke peer groupnya diukur dengan uji ANOVA dan analisis pengaruh krisis financial global di tahun 2008 diukur menggunakan metode uji data berpasangan rasio efisiensi sebelum dan sesudah krisis.

Kata Kunci : Merger dan acquisitions, perbankan.

Abstract

This research use efficiency with DEA method to calculate the performance of the banks after merger and acquisition. Measurement of efficiency was calculate by historic data starting year 1998 when the regional crisis economic till 2009 after crisis financial global economic in Indonesia. The efficiency ratio has calculated between 0 to 100 percent of the efficiency parameter. The result of efficiency research shows that m & a not significance to increase the efficiently and depends with the qualitative variable of the banks, such: organizational effectiveness and managerial capability. The result of research show that Bank Mandiri has stable efficiency ratio after m & a till 2009 and not influence by the crisis but has significance influence to the efficiency of the peer-groups of the banks. Crisis financial global in the year 2008 only influence Bank Century as a fact. Research also show that only the banks with the capital up to IDR 10 Trillion ( /- USD. 1 Billions) has influence the efficiency criteria of their peer groups of the banks, the capital less than the amount not significance influence the efficiency criteria of their peer-groups. Efficiency ratio measure by DEA method and analysis, tests of efficiency before and after m&a using mann-whitney test non parametric approach with abnormal data distributions, analysis of peer groups influence by m & a measure with ANOVA tests and analysis of influence financial crisis global in year 2008 measure by pair-wise method the efficiency ratio before and after crisis.

Keywords : Merger and acquisitions, banking.

Jika ingin membaca Jurnal lengkapnya silahkan Klik Disini

Longterm Performance Trends Analysis and ManagingExpectation for Active Value1 (Case Study: PT Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk)

Perdana Wahyu Santosa
YARSI University and CAPITAL PRICE2
Jl. Letjen. Suprapto, CempakaPutih, Jakarta 10510, Indonesia

Abstract

This research used financial ratio and managing expectations for active value about performance of PT IndocementTunggal Prakarsa, Tbk (INTP) as one of largest cement company with a strong brand image at Indonesia Stock Exchange (IDX). Unlike traditional corporate-performance metric, this study use growth value of matrix. INTP is well placed to meet Indonesia’s growing per capita of cement consumption. The financial data sources for this research are the audited annual reports of INTP2002-2008. The analysis focused on compounds annual growth rate (CAGR), profitability, total assets turnover, cost of capital, market value added & market risk and market perception map. This research also used growth value matrix to analysis the market perception of INTP in 2008 that combined current performance with future growth opportunity. The result of market perception mapping for 2008-2009 shows that INTP was just on market average of current performance index but the future growth opportunity was above the market average level. The conclusion explains that INTP has very good long-term fundamental performance’s trend and the company is indicated has strong capabilityto be excellent value manager in the future.

Keywords : ndocement, value matrix, current performance, growth opportunity, market perception.

Jika ingin membaca Jurnal lengkapnya silahkan Klik Disini

Studi Empiris Theory of Planned Behavior dan Pengaruh Kewajiban Moral pada Perilaku Ketidakpatuhan Pajak Wajib Pajak Orang Pribadi

Widi Hidayat
Argo Adhi Nugroho
Fakultas Ekonomi, Universitas Airlangga Surabaya

Abstrak

Penelitian ini menggunakan Theory of Planned Behavior/TPB (Ajzen 1991) dengan tambahan variabel kewajiban moral (Bobek and Hatfield 2003), untuk menjelaskan perilaku ketidakpatuhan pajak wajib pajak orang pribadi. Sebanyak 155 sampel wajib pajak orang pribadi. Penelitian ini menggunakan Structural Equation Modeling (SEM) dengan software SPSS 16.0. dan AMOS 16. Hasil penelitian menghasilkan kesimpulan, pertama, sikap terhadap ketidakpatuhan berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap niat untuk tidak patuh terhadap pajak. Kedua, norma subyektif berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap niat untuk tidak patuh terhadap pajak. Ketiga, kewajiban moral berpengaruh positif dan signifikan terhadap niat untuk tidak patuh terhadap pajak. Keempat, PBC berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap niat untuk tidak patuh terhadap pajak. Kelima, PBC berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap perilaku ketidakpatuhan pajak. Keenam, niat seseorang untuk tidak patuh terhadap pajak berpengaruh positif dan signifikan terhadap perilaku ketidakpatuhan pajak. Hasil perbandingan antara deskriptif variabel dengan hasil loading factor masing-masing indikator terhadap variabel, menemukan: pertama, kontribusi terbesar terhadap sikap ketidakpatuhan pajak tetaplah aspek ekonomi yaitu memaksimalkan utilitas finansial. Kedua, pihak yang memberikan kontribusi terbesar dalam norma subyektif adalah konsultan pajak dan berikutnya adalah teman/orang terdekat dilingkungan. Ketiga, kontribusi paling besar terhadap tingginya moral untuk patuh terhadap pajak diberikan oleh indikator rasa bersalah. Keempat, PBC yang cukup besar terhadap ketidakpatuhan pajak disebabkan oleh kontribusi controllability.

Kata Kunci : Theory of planned behavior, attitude, subjective norm, perceived behavioral control, moral obligation, intention, tax noncompliance.

Abstract

This study using Theory of Planned Behavior/TPB (Ajzen 1991) with moral obligation variable (Bobek and Hatfiel 2003), to explain the tax noncompliance behavior of individual taxpayers. Researchers using 155 samples of individual tax payers. The testing of the research using Structural Equation Modeling (SEM) with SPSS 16.0 software and AMOS 16. The results of hypothesis testing conclude that: first, the attitude toward non-compliance has negative correlation and not significant toward intention to noncom ply. Second, subjective norms has positive correlation and not significant toward the intention to noncom ply. Third, moral obligation has positive and significant impact toward the intention to noncomply. Fourth, PBC has negative corelation and not significant toward the intention to noncomply. Fifth, PBC has negative corelation and not significant toward the tax noncompliance behavior. Sixth, the intention to noncomply has positive corelation and significant toward tax noncompliance behavior. The comparison result between descriptive variables and loading factor of each indicator toward variable found that; first, the biggest contribution toward tax non-compliance attitude remains the economic aspects of maximizing the financial utility. Second, the part tha give the biggest contribution toward subjective norm is tax consultant, and the next is friend/closest person around. Third, the highest contribution toward the moral of tax compliance is feeling guilty. Fourth the significance PBC toward tax non-compliance due to the contribution of controllability.

Keywords : Theory of planned behavior, attitude, subjective norm, perceived behavioral control, moral obligation, intention, tax noncompliance.

Jika ingin membaca Jurnal lengkapnya silahkan Klik Disini

The Implementation of Role-Playing Model in Principles of Finance Accounting Learning to Improve Students’ Enjoyment and Students’ Test Scores

L. Saptono
Accounting Education, Sanata Dharma University, Yogyakarta

Abstract

This research is a classroom action research. The goal of conducting this research is to improve students’ enjoyment level and their test scores by implementing role-playing method. The research is conducted in Accounting Education Study Program of Sanata Dharma University at odd semester on academic year 2010/2011. The participants were divided into two classes. The first class was the class that got the treatment, while the second class was the control class. The result of the study showed that there was an improvement of students’ enjoyment level and test scores in the class which implemented role-playing method.

Keywords : Classroom action research, enjoyment level, tests scores.

Jika ingin membaca Jurnal lengkapnya silahkan Klik Disini

Rhetorics in Financial Reporting: An Interpretive Case Study

Anis Chariri
Fakultas Ekonomi, Universitas Diponegoro, Semarang

Abstract

This study is a case study conducted in an Indonesian insurance company. The aim of the study is to understand the dynamics of financial reporting in the company. Ontologically, this study is built on a belief that financial reporting practice is a socially constructed reality. As a socially constructed reality, such a practice involves an interaction among social actors, and between organisational actors and the institutional and cultural environment in which the company operates. The main research question of this study is why and how the company constructs its financial reporting to deliver messages to its audience. This study reveals that the company is committed to quality financial reporting because such reporting can be used to gain legitimacy and to maintain social harmony. Consequently, financial reporting is constructed as a rhetorical story about its performance, management ability and insight into the future.

Keywords : Rhetorics, financial reporting, legitimacy, narrative, qualitative.

Jika ingin membaca Jurnal lengkapnya silahkan Klik Disini

Jurnal Akuntansi - AKU101202

Rhetorics in Financial Reporting: An Interpretive Case Study
Anis Chariri
Fakultas Ekonomi, Universitas Diponegoro, Semarang

The Implementation of Role-Playing Model in Principles of Finance Accounting Learning to Improve Students’ Enjoyment and Students’ Test Scores
L. Saptono
Accounting Education, Sanata Dharma University, Yogyakarta

Studi Empiris Theory of Planned Behavior dan Pengaruh Kewajiban Moral pada Perilaku Ketidakpatuhan Pajak Wajib Pajak Orang Pribadi
Widi Hidayat
Argo Adhi Nugroho
Fakultas Ekonomi, Universitas Airlangga Surabaya

Longterm Performance Trends Analysis and ManagingExpectation for Active Value1 (Case Study: PT Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk)
Perdana Wahyu Santosa
YARSI University and CAPITAL PRICE2
Jl. Letjen. Suprapto, CempakaPutih, Jakarta 10510, Indonesia

Pengaruh Merger dan Akuisisi Terhadap Efisiensi Perbankan di Indonesia (Tahun 1998-2009)
Ruddy Tri Santoso
Mahasiswa Program Doktor Ilmu Ekonomi, Universitas Sebelas Maret, Surakarta


Ketidakpastian Tugas Sebagai Variabel Moderator Terhadap Hubungan antara Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Kepuasan Pengguna pada End User Computing

Retnaningtyas Widuri
Fakultas Ekonomi Universitas Kristen Petra Surabaya

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: 1) pengaruh dari diversitas pemanfaatan dan luas pemanfaatan teknologi informasi terhadap kepuasan pemakai akhir komputer dan 2) pengaruh interaksi antara ketidakpastian tugas dengan dimensi pemanfaatan teknologi informasi (diversitas dan luas pemanfaatan) terhadap kepuasan pemakai akhir komputer. Responden penelitian ini adalah tenaga administrasi tingkat fakultas dan program. pascasarjana yang menggunakan sistem informasi dalam melaksanakan tugasnya. Penelitian ini menggunakan regresi berganda untuk menguji hubungan antara dimensi pemanfaatan dengan kepuasan pemakai akhir komputer. Untuk menguji pengaruh interaksi antara dimensi pemanfaatan dengan ketidakpastian tugas terhadap kepuasan pemakai akhir komputer menggunakan alat analisis moderated regression analysis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa diversitas pemanfaatan teknologi informasi berpengaruh signifikan terhadap kepuasan pemakai akhir komputer, dan interaksi antara diversitas pemanfaatan dengan ketidakpastian tugas juga berpengaruh signifikan terhadap kepuasan pengguna akhir komputer. Luas pemanfaatan teknologi informasi berpengarug signifikan terhadap kepuasan pemakai akhir komputer, akan tetapi interaksi antara luas pemannfaatan dengan ketidakpastian tugas tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kepuasan pengguna akhir komputer.

Kata Kunci : Pemanfaatan, ketidakpastian tugas, kepuasan pengguna akhir

Abstract

This research aims to test influence from diversity and the extent of utilization of information technology on the end user computing satisfactions. Also, this research examine interaction between task uncertainty and dimension of utilization (diversity and the extent) information technology on the end-user computing satisfaction. This research responder are administrative personel in faculty and program pascasarjana levels using information system in executing the duty. This research take sampel as much 65 sampel. Analysis used int this research is multiple regression to examine correlation between dimension of utilization with end-user computing satisfaction. While to examine the effect interaction between dimension of utilization and task uncertainty with end-user computing satisfaction used moderated regression analysis. The result of analysis indicate that diversity information technology are influece on the end-user computing satisfaction, interaction between diversity of utilization information technology and task uncertainty are influence on the end-user computing satisfaction. Although, extent of utilization information technology and interaction between extent of utilization information technology with task uncertainty are not significant influence on the end-user satisfaction.

Keywords : Utilization, uncertainty task, end user satisfaction.

Jika ingin membaca Jurnal lengkapnya silahkan Klik Disini

make cash

Hai Teman ...

Disini saya mau sharing pengetahuan tentang Akuntansi dan Perpajakan yang pernah saya pelajari, kalau ada kritikan atau saran jangan lupa isi komentarnya.
Besar harapan semoga tulisan disini dapat bermanfaat dan menambah wawasan.
Bila anda menemukan kesulitan dalam penyusunan Laporan Keuangan dan Laporan Pajak untuk Perusahaan anda.
Jangan Khawatir kami siap membantu, hubungi 081214712733

Sekarang

Ayat-ayat Al Quran

Chat

Katagori

Pengunjung

free counters
Locations of visitors to this page